Rally Dunia Yang Merakyat

Posted: July 23, 2012 in Rally, Reli Selandia Baru

“Mungki ini reli terakhir di Selandia Baru, makanya saya jauh-jauh datang dari Amerika dengan penerbangan udara memakan waktu lebih dari 24 jam untuk menyaksikannya,” celetuk Samantha, gadis pirang fans berat reli asal Amerika.

Uneg-uneg tersebut menyisipi pembicaraan disaat-saat penantian kita di SS13 tepatnya didaerah pedesaan Brooks utara Auckland, Selandia Baru. Waktu masih menunjukkan pukul 12 siang dan udara yang dingin menyentuh sekitar 10 derajat celcius dengan sinar matahari yang keras membuat kita semangat segara mencari lokasi menunggu untuk dua setengah jam kedepan.

Setiba dilokasi SS13, kami dengan mengendarai sebuah mobil minivan sewaan dari perusahaan rental mobil bernama Budget Car Rental berisi 4 anak muda asal Indonesia yang salah dua-nya merupakan penduduk Selandia Baru yang sedang kuliah dan bekerja, berusaha mencari lahan kosong dipinggir jalan untuk memarkir kendaraan. Mencoba untuk mendekat ke lokasi lintasan ternyata niat tersebut harus diurungkan karena pihak panitia menyuruh kita untuk lebih jauh lagi parkirnya. Kurang lebih 500 meter dari tempat parkir kami menuju tempat menonton yang ditempuh dengan berjalan kaki bersama dengan penonton lainnya yang masih sedikit.

Memasuki kawasan pedesaan dengan lahan peternakan domba-domba yang didominasi dengan pemandangan hijau rumput, kami mencari-mencari lokasi yang paling ideal untuk melihat mobil-mobil pacuan WRC terbang melewati jembatan legendaris. Iya, Hella Bridge namanya. Jembatan yang pendek menyembrangi kali kecil dilintasan sebenarnya tidak terlalu hebat sih derajat kemiringannya. Kalau dilalui dengan kecepatan normal tidak akan terlihat efek spektakuler dari sisi tontonan. Tapi yang membuat SS ini menjadi special karena yang akan melintas adalah mobil-mobil WRC modifikasi khusus dari merek-merek terkenal Eropa seperti Citroen, MINI Cooper, SKODA dengan kecepatan paling tidak diatas 100 km/h dengan lebar jembatan paling cuman 3 meter.

Spectators

Aksi yang dinanti-nanti tentu menjadi kenyataan yaitu sebuah mobil Citroen DS3 yang dikendarai Juara Dunia 8 kali, Sebastian Loeb benar-benar menegangkan sekaligus mengasikkan. Mobil dengan kapasitas mesin sebesar 1.600 cc lengkap dengan tenaga turbocharged-nya menyelasaikan tikungan kekiri dan langsung menghantam bibir jembatan sehingga membuat mobil seakan ingin tinggal landas alias benar-benar terbang sekian detik dan praktis melayang tidak menyentuh jembatan tersebut yang memiliki panjang sekitar 6 meter-an dan mendarat tepat di ujung jembatan sebrangnya. Mendarat dan langsung disodorkan tikungan tajam ke kanan sehingga membuat sibuk Sebastian Loeb untuk segera mengkoreksi stir-nya agar tidak overshoot. Tapi teknik menyetir yang sudah mumpuni itu membuat mobil dipaksa untuk berbelok dengan aksi drifting dengan menyapu kerikil-kerikil kecil bercampur pasir (sirtu) tanpa mengurangi kecepatan sama sekali hingga garis finish didepannya. Lokasi tontonan tersebut ternyata benar-benar tepat digaris finish sehingga sudah menjadi kebiasaan pebalap untuk menggeber abis kendaraannya menjelang garis finish.

Tapi jauh sebelum kita menyaksikan aksi-aksi tersebut oleh sekitar 40 pebalap dunia, tim kecil dari Indonesia akhirnya memutuskan untuk “booking spot” tepat disebrang tikungan ke kanan tersebut. Lokasi yang sangat ideal untuk melihat aksi mobil terbang sekaligus untuk mengabadikannya. Dua setengah jam lagi dan kita benar-benar hanya bisa menduduki rumput hijau yang sedikit agak lembab tanpa alas sehingga sekali-kali kita harus berdiri sekedar untuk mengeringkan celana. Tidak banyak yang kita lakukan selagi menunggu melainkan berusaha untuk menghangatkan diri dari cuaca dingin dengan terpaan angin.

Pelan-pelan tapi pasti penonton mulai berdatangan dan mengisi area-area disekitar lokasi kita menunggu. Ternyata pilihan kita tepat, bagaikan menonton dari grand stand layaknya sirkuit-sirkuit permanen dengan tampilan paling ekslusif.

Spectators

Tidak terasa perut sudah keroncongan apalagi ditambah udara dingin menusuk. Beruntung disekitar terdapat jajanan kecil ala orang barat berupa sandwich, roti sosis dan minuman penghangat berupa kopi dan bir. Dengan merogoh kocek sebesar 3 dolar Selandia Baru setangkap roti-sosis tersebut menjadi pengganjal perut kami tanpa berharap untuk kenyang dengan kebiasaan kita orang timur yang harus makan nasi. Beruntung bagi penduduk setempat dengan gelaran tahunan reli di lokasi sekitar perumahan mereka dengan kebanjiran rezeki sesaat bisa mendapatkan uang tambahan dengan berjualan jajanan bagi ratusan penonton yang memadati kawasan peternakan tersebut.

Even dunia yang merakyat

Berbeda dari kesemarakan arena balap Formula, lomba reli dunia seperti di Selendia Baru ini digelar menyebar, diseantero desa dan kota di sekitar pusat perlombaan. Berbeda dari balapan di sirkuit, kejuaraan reli berlangsung relatif sangat dekat dengan penonton meskipun hanya berlangsung dalam hitungan detik pembalap melintas.

Jika dibandingkan balapan formula ataupun lomba di sirkuit, reli dirasakan “lebih merakyat”. Tentu saja, mobilnya bukan mobil murahan. Dalam reli Selandia Baru, kota Auckland hanya kebagian “parade pengenalan peserta lomba”, dan juga special stage (SS) terakhir di hari penutupan. Selebihnya area lomba berlangsung di Utara dan Selatan kota Auckland. Sebut saja daerah-daerah seperti Whaanga Coast, Te Akau, Waipu Gorge yang didominasi dengan padang savanna.

Auckland Kota Moderen Berpenduduk Minim      

Kesemarakan even reli dunia tampak tidak terlalu heboh di kota Auckland yang diduduki sepertiga dari total penduduk negeri Selandia Baru berjumlah kurang lebih empat juta lima ratus penduduk.

Tidak tampak kehebohan di sudut-sudut kota apalagi spanduk-spanduk yang memajang promosi reli Selandia Baru. Sedikit spanduk promosi baru terlihat pada saat sudah mendekati area Service Park di Viaduct Event Center (VEC), lokasi pelabuhan di Kota Auckland yang tertata rapi dan dipenuhi oleh kapal-kapal pesiar berukuran medium serta dengan yacht-yacht-nya.

VEC

Tepat di VEC tersebutlah, kesibukan setiap tim Rally terlihat kesehari-harian sepanjang Reli Selandia Baru tersebut. Penonton diberikan akses yang sangat dekat sekali untuk melihat tim-tim papan atas seperti Citroen, Ford, Skoda, MINI Cooper. Tidak hanya dapat melihat mobil-mobilnya saja tapi sesekali apabila beruntung penonton juga dengan sangat mudah berfoto bersama dengan para pembalap dan tidak terlepas dengan pebalap delapan kali Juara Dunia, Sebastien Loeb.

Suasana yang ramah disekitar service area (VEC) menghangatkan suasana dingin di negeri Kiwi tersebut ditambah dengan jajanan-jananan di kafe-kafe jalanan yang tentunya didominasi dengan menu dari laut alias seafood yang tertata rapi sepanjang area pelabuhan tersebut membuat penduduk sekaligus penonton dari belahan dunia manapun menikmati perhelatan kelas dunia tersebut.

Kesibukan juga terlihat ditengah kota Auckland tapi kali ini pada hari ketiga (terakhir) tampak di pusat kota namanya Auckland Domain dimana tempat ini akan berlangsung 2 SS (Special Stage) yaitu 18 dan 19 dari total 22 SS. Kembali lagi, suasana kemeriahan dalam cuaca yang dingin sangat mengasyikkan karena kita tidak perlu berkeringatan untuk berlari-lari mengejar-ngejar sudut-sudut lintasan untuk melihat aksi-aksi para pembalap.

Iya, untuk lokasi SS ini, memang berlangsung seperti di sirkuit jalanan, Komplek Museum Auckland tersebut disulap seperti arena sirkuit dalam kota dengan lintasan beraspal. Mungkin kalau sedikit ingin membayangkan, lokasi balapan di Auckland Domain ini mirip apabila kawasan Monas dan sekitarnya ditutup dan rubah menjadi lintasan balapan.

Di lokasi ini juga tampak masyarakat sangat menikmati perhelatan reli dunia. Suasana akrab antara penonton dengan para pembalap-pembalapa kaliber dunia terlihat dilokasi start. Kesempatan tidak disia-siakan pada saat para pembalap yang akan menunggu giliran dilepas, penonton sibuk untuk berfoto bersama. Sebut saja, Sebastien Loeb, Ken Block, Latvala dan tidak terlepas pembalap asal Indonesia, Subhan Aksa.

Iya pada kejuaraan reli dunia musim 2012 kali ini, bangsa kita terwakili oleh pembalap asal Makassar tersebut. Dan tentunya dukungan berdatangan dari penduduk Auckland yang berasal dari Indonesia. Sesaat sebelum start, Ubang panggilan akrab Subhan Aksa tidak melepas kesempatan sekaligus untuk berfoto bersama dengan beberapa masyarakat Indonesia tersebut sekaligus memberikan semangat. Pada seri balap di Selendia Baru kali ini, Ubang mencatatkan prestasi yang sangat fenomenal dengan berhasil finish ke-2 di kelas Production Wordl Rally Championship (PWRC) dan sebelumnya juga diposisi yang sama pada seri balapan di Reli Yunanu sehingga sekaligus membuat dia menyodok di urutan ke-3 klasemen sementara perolehan poin di kelas tersebut.

Dengan berpenduduk minim, ternyata Auckland dapat memberikan sebuah suguhan perhelatan berkelas dunia dengan sangat rapih dan ter-organised dengan baik. Dan disaat yang bersamaan penghasilan yang cukup siknifikan bagi devisa negara khususnya daerah Auckland memberikan keuntungan tersendiri. Dan itu berhasil didapat dari para penonton dari seluruh dunia yang selalu berdatangan untuk menyaksikan even reli dunia tersebut. Saya terbayang apabila perhelatan balapan kelas dunia kembali bergulir di tanah air Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s