Menapak Karir Menuju Pembalap F1

Posted: December 15, 2009 in Uncategorized

Kejuaraan Dunia Formula 1 musim 2009 telah berakhir dengan title juara dunia berhasil direbut pembalap Brawn GP, Jenson Button. Diakhir-akhir musim 2009 ini biasa disebut dengan silly season (musim kasak kusuk) khususnya menyangkut bursa pembalap dan tim yang akan bertandang kemana dimusim berikutnya.

Barisan 20 pembalap tersebut setiap dua minggu sekali menjadi pusat perhatian jutaan manusia di seluruh dunia dan menjadi saksi keganasan kompetisi Formula 1 serta yang tak kalah menarik adalah bagaimana setiap pembalap harus menahan tingkat adrenalin tinggi di dalam tubuhnya serta raungan 20 mesin bertenaga 800-an lebih tenaga kuda pada saat start tentu membuat stress pembalap itu sendiri.

Namun profesi menjadi pembalap Formula 1 tidak akan pernah luntur dalam benak hati mereka yang memang memimpikannya. Bagaimana tidak, apabila Anda termasuk diantara 20 pembalap terbaik di dunia tersebut maka jangan heran apabila Anda akan diperlakukan serba VVIP (Very Very Important Person). Bisa dibayangkan bagaimana perlakuan dunia terhadap Anda sudah hampir mendekati para selebritis atau lebih. Jadi, memang Bernie (pemilik sirkus Formula 1) telah membuat suatu komunitas tersendiri bagi para pembalapnya dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Karena merupakan jenjang karir tertinggi di arena balap mobil, maka pencapaiannya pun tidak akan semudah kita bermimpi. Banyak yang harus dipersiapkan dan dibawa untuk masuk kedalam komunitasnya Bernie.

Prestasi, tentu merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi setiap pembalap sebelum persyaratan penting lainnya dipenuhi. Jenjang karir formal menuju pembalap Formula 1 memang harus melalui beberapa tahapan yang diakui pihak FIA. Seorang pembalap setidak-tidaknya harus memulai karirnya di tingkat nasional terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tingkat internasional. Nah pada tingkat internasional tersebut si pembalap ini harus bisa masuk dalam jalur yang tepat untuk nantinya dapat diproyeksikan menjadi pembalap Formula 1.

Tahapan awal mungkin dimulai di ajang kompetisi Formula 3. Kompetisi Formula 3 merupakan bentuk balap mobil yang sudah menggunakan mobil mirip dengan Formula 1 atau disebut juga single seater atau open wheel. Tapi tentu kapasitasnya masih jauh berbeda dengan F1. Di Formula 3 pembalap dapat memilih kompetisi yang akan diikuti karena seri kejuaraan F3 mempunyai seri di setiap negara masing-masing seperti di Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Argentina, Zona Eropa Tengah dan masih banyak lagi negara-negara yang menyelenggarakan Formula 3 ini. Di kompetisi Formula 3 ini setiap pembalap diharapkan dapat meraih prestasi menggembirakan karena hasil yang di hasilkan di F3 akan dibawa menuju jenjang berikutnya yaitu kompetisi GP2.

Untuk kompetisi GP2 kendaraan yang di pakai sudah hampir mendekati ke bentuk Formula 1 hanya bedanya terbatas pada chasis dan mesin yang semuanya menggunakan satu jenis tipe yaitu Dallara (chasis) dan Renault (Mesin) serta bannya menggunakan Bridgestone. Menggunakan mesin 4.000 CC konfigurasi V8 dari Renault kompetisinya sudah menggunakan sirkuit yang dipergunakan balap Formula 1. Uniknya balapan GP2 sangatlah menguntungkan bagi pembalap tersebut apabila nanti terjun ke ajang berikutnya, F1.

Kebutuhan lain yang sangat vital sifatnya adalah sebuah izin. Di Formula 1 terdapat keunikan perizinan yang lebih dikenal namanya “Super Licence” dikeluarkan oleh Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) sebuah badan tertinggi yang mengurusi masalah peraturan di industri balap mobil dunia. Pada prinsipnya sama dengan yang kita miliki di Indonesia yaitu KIS (Kartu Izin Start) yang dikeluarkan pihak Ikatan Motor Indonesia (IMI), badan resmi tertinggi di Indonesia yang mengurusi masalah-masalah lomba kendaraan bermotor.

Pada saat tahap untuk mendapatkan izin tersebut banyak pembalap yang mengalami kesulitan terutama bagi pembalap yang kurang pengalaman di arena balap mobil baik intenasional maupun nasional. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi para pembalap terlebih dahulu baik dari pengalaman maupun kepastian dari salah satu tim Formula 1 bahwa pembalap memang sudah terikat kontrak dengan tim tertentu. Persyaratan pembalap mendapatkan izin “Super” memang tidak akan dipersulit apabila pernah mencicipi kompetisi GP2 tapi harus memiliki catatan sebagai pembalap terbaik keempat pada kompetisi tersebut dan berlaku hanya dua tahun semenjak dia meraih prestasi tersebut. Tetapi itu semua bukan persyaratan mutlak menjadi pembalap F1.

Sebetulnya bagi para pembalap yang berprestasi walaupun jebolan Formula 3 sangat tidak mungkin untuk mendapatkan si “izin super” tersebut sebelum mereka berprestasi juga di ajang selanjutnya yaitu GP2. Tapi pihak FIA memiliki pengecualian khususnya hanya bagi para pemenang Formula 3 di negara-negera seperti Inggris, Italia, Jerman, Perancis dan Jepang yang boleh memiliki kesempatan untuk mendapatkan Super Licence tapi berlaku hanya setahun setelah dia menjuarai kelas tersebut. Tapi anehnya sebagian besar pembalap yang tergabung dalam tim Formula 1 ternyata jebolan juara F3 semua seperti: Jean Alesi, Rubens Barichello, Pedro de la Rosa, Giancarlo Fisichella, Mika Hakkinen, Nick Heidfeld, M. Schumacher, Jarno Trulli, dan Jos Verstappen. Jadi apabila ada sebuah tim Formula 1 mencari seorang pembalap sepertinya juara Formula 3 masih sangat dapat diandalkan dan lagipula tentunya pembalap tersebut masih murah.

Mungkin kita masih ingat pada kasus pembalap yang baru saja berumur 21 tahun saat akan memulai debutnya di Formula 1 yaitu Kimi Raikkonen dan sudah menjadi juara dunia 2007. Banyak yang kontra awalnya terhadap keinginan pembalap tersebut karena disebabkan dia tidak memiliki sama sekali pengalaman balapan di kompetisi Formula 3 maupun Formula 3000 apalagi di GP2 dan hanya lulusan Formula Renault dan baru ikut balapan sebanyak 23 kali. Untuk mendapatkan izin tersebut Kimi dipaksa untuk mengikuti tes terlebih dahulu dengan tim Sauber yang pada saat itu sudah mengkontraknya dan merupakan salah satu keuntungan Kimi untuk mendapatkan izin tersebut.

Pada sesi tes Kimi mencatat prestasti menjadi tujuh tercepat di Jerez, Spanyol. “Kimi mampu menarik perhatian pihak FIA dengan tampil memukau pada sesi tes sebelumnya di Mugello, Italia dengan menggunakan mobil Sauber C19.” kata Peter Sauber. Dengan catatan yang bagus pada tes di dua tempat tersebut maka membuat pihak FIA tidak dapat menghindar lagi untuk memberikan izin berlaga di arena Formula 1 karena di salah satu persyaratan untuk mendapatkan Super Licence disebutkan memang pengecualian bagi pembalap yang telah berhasil melakukan tes dengan menggunakan mobil Formula 1 dan telah menempuh jarak paling sedikit 300 km dengan kecepatan mencapai rata-rata waktu saat balapan dan tentunya telah disahkan pula oleh Komisi Formula 1 beserta dengan pihak penyelenggara negara setempat.

Masalah masih belum juga selesai, ternyata pihak FIA memberikan izin hanya untuk empat balapan awal saja untuk musim 2001 yaitu di Australia, Malaysia, Brazil dan San Marino setelah itu akan dipertimbangkan kembali. Tapi pada kenyataannya Kimi mampu memukau jutaan mata dunia dengan berhasil masuk finis di urutan keenam pada seri pertama musim 2001 di Australia. Hasil tersebut tentunya telah memuluskan jalan Kimi untuk melanjutkan kembali impiannya menjadi pembalap Formula 1. Kasusnya berbeda dengan pembalap pendatang baru dari Malaysia, Alex Yoong yang telah masuk dalam tim Minardi untuk tiga seri terakhir di musim 2001. Catatan yang dimiliki Alex dalam mendukung mulusnya masuk arena F1 ternyata dia jebolan Formula 3000 Jepang, Formula 3 dan Formula Renault walaupun prestasinya tidak terlalu bagus. Tapi persyaratannya dalam memperoleh si izin super adalah dia juga tetap harus mengikuti sesi tes sepanjang 300 km sekurang-kurangnya di sirkuit Mugello.

Yang menjadi kelebihan Alex Yoong dalam obsesinya masuk Formula 1 karena diuntungkan oleh beberapa faktor lainnya yang non-teknis, seperti sponsor atau pendanaan yang berlimpah dari perusahan Magnum serta dukungan pemerintah Malaysia yang memiliki seri Formula 1 setiap tahunnya dan apalagi dengan adanya perusahaan besar Malaysia, Petronas yang mensponsori tim Sauber, jadi jelas telah membuat pihak FIA untuk memberikan dukungan terhadap Alex. Sementara memang tim Minardi lagi ada masalah dengan keadaan finance-nya pada saat itu.

Jadi memang di sini sangat jelas bahwa dalam keinginan kita untuk menapakkan karir di dunia Formula 1 sebagai pembalap sangatlah tidak mudah apalagi sebagai penyelenggara. Banyak faktor-faktor teknis dan non teknis yang harus dibawa berbarengan kedalam komunitas-nya Bernie (baca: Formula 1). Apaplagi kalau dilihat dari sisi non teknis lainnya, terlihat bahwa jatah pembalap dari dunia ketiga ini sangatlah terbatas pada tim-tim papan bawah yang tidak akan mungkin bisa mencatat prestasi menggembirakan. Dan kemungkinannya sangat kecil sekali untuk bergabung dengan tim papan atas atau menengah sekalipun.

Seperti kita ketahui Formula 1 itu adalah olah raga penuh dengan gengsi kaum borjuis yang memiliki uang banyak dan notabene diperuntukkan bagi kaum dunia pertama serta merupakan suatu bentuk gengsi tersendiri yang ingin Bernie tunjukkan kepada dunia. Sepertinya dunia kita memang berbeda dengan dunia mereka yang telah mencuri start lebih awal.

Comments
  1. iben says:

    saya pingin jadi kira kira apa saja sh syarat syarat mutlaknya tolong dibalas yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s