Di Balik Gemuruh Suara Mesin Balap Formula 1

Posted: December 8, 2009 in Formula 1, Uncategorized
Tags: , , , , , , , , ,

Dunia balapan internasional adalah olah raga yang memadukan unsur-unsur teknologi canggih dengan bisnis hiburannya (entertainment). Ambil contoh Kejuaraan Dunia Formula 1 dimana unsur olah raganya hanya dapat kita lihat dari bulan Maret sampai Oktober selama dua kali sebulan dan hanya berlangsung selama dua jam setiap hari minggu. Diluar itu semua, Formula 1 adalah sebuah bisnis raksasa dengan mempertontonkan teknologi tercanggih dimuka bumi.

Formula 1 banyak mengalami perubahan memasuki era tahun 90-an. Formula 1 telah menjadi olah raga balapan yang sangat mengandalkan kekuatan uang (the power of money). Permasalahannya adalah setiap tim berusaha dari hari-kehari melakukan pengembangan-pengembangan baik dari segi aerodinamis maupun mesin (Research and Development) untuk menciptakan mobil yang lebih cepat dan cepat. Untuk mengatasi masalah tersebut sejumlah puluhan juta Dollar harus rela dikeluarkan setiap tim hanya untuk dapat tampil lebih cepat 0,1 detik dilintasan.

Memang olah raga balapan khususnya Formula 1 sangat mahal sekali dan untuk melicinkan laju ban mobil Formula 1 supaya lebih kencang dibutuhkan unsur uang yang banyak dan hanya tim-tim Formula 1 dengan dana terbesar yang memiliki kesempatan memasuki garis finis diurutan enam besar untuk mendapatkan perolehan poin. Para tim papan tengah biasanya menghabiskan dana sebesar 25-35 juta dollar dari sponsorsip setiap tahunnya dan untuk tim sekelas Ferrari & McLaren maka bujet tersebut bisa dua kali lipat.

Saat sekarang nampaknya hanya terbatas pada perusahaan blue chip saja yang dapat melakukan sponsorsip dengan Formula 1. Perusahaan tersebut kenapa mau melakukan promosi dengan Formula 1 yang mahal? Mereka menyukai Formula 1 karena setiap balapannya ditonton oleh 350 juta potential customers –nya di seluruh 202 negara. Hanya Olimpiade dan Piala Dunia yang sanggup menyaingi angka tersebut, itupun juga berlangsung hanya empat tahun sekali.

Sementara itu balapan mobil sangat bergantung sekali dengan   keberadaan para perusahaan sponsor yang telah berlangsung hubungan selama hampir lebih dari 100 tahun. Sebagai contoh adalah balapan mobil pada tahun 1894 dari Paris ke Rouen disponsori dan diselenggarakan oleh surat kabar local Le Petit Journal. Enam tahun berikutnya kembali sebuah surat kabar Amerika, New York Herald kembali memsponsori beberapa seri balapan internasional di Perancis dalam rangka promosi surat kabar tersebut di Perancis.

Berdasarkan ilustrasi singkat diatas saya ingin sedikit berkomentar perihal keadaan atmosfir dunia balapan di Indonesia sendiri? Memang sangatlah tidak fair apabila kita membandingkan negara kita dengan negara-negara maju yang telah dahulu memajukan industri dunia balapnya. Tapi ada satu hal yang sama dimanapun itu dan saya ingin menggaris bawahinya. Yaitu dana besar yang dibutuhkan untuk memulai pengembangan industri dunia balap di Indonesia dan tentunya itu bisa kita dapat apabila dukungan total dari instansi perusahaan-perusahaan besar yang memiliki dana raksasa.

Permasalahannya sekarang adalah, negosiasi denga para perusahaan sponsor sangatlah susah, mereka sekarang tidak hanya berpikir kalau mau berpromosi harus melalui olah raga otomotif melainkan sekarang banyak event-event olah raga nasional yang memiliki pengaruh yang cukup besar. Jadi dengan begitu pihak penyelenggara maupun pemerintah harus mempersiapkan lebih ditail lagi keperluan-keperluan untuk mempengaruhi para sponsor. Ambil contoh biasanya tim Formula 1 menghabiskan hampir lebih dari setahun dalam membicarakan bentuk kerja sama yang melibatkan uang jutaan dollar. Tapi ada juga negosiasi yang bisa dilakukan hanya beberapa minggu.

Seperti Williams yang pernah mendapatkan sponsor dari perusahaan rokok Rothmans, mereka hanya melakukan negosiasi tidak lebih dari enam minggu. Situasinya waktu itu memang Rothmans sangat antusias sekali masuk Formula 1, yang sebelumnya sudah menelepon tim Sauber tapi sangat disayangkan Rothmans tidak mendapatkan jawaban sama sekali, maka jadilah rejeki Williams dapat sponsor Rothmans. Pada tahun 1998, Williams menggantikan sponsorship-nya ke merek Rothmans lainnya yaitu, Winfield. Tapi yang terpenting adalah bagaimana tim Formula 1 dapat memberikan kepastian kepada para pihak sponsor mengenai peta kekuatan tim sehingga dapat menghasilkan hasil balapan yang sempurna.

Kemenangan setiap tim Formula 1, maka secara otomatis pihak sponsor akan senang karena logo mereka akan dilihat oleh semua mata di dunia secara gratis dan itu merupakan tujuan utama sebuah perusahaan melakukan sponsor.

Kembali apabila kita melihat contoh ilustrasi di dunia Formula 1 diatas, sangatlah jelas dan sederhana bagaimana mengambil hati para sponsor untuk diajak kerja sama yaitu kepastian dana yang dikeluarkan memberikan feedback keuntungan terhadap perusahaan itu sendiri yaitu Brand Image (citra merek itu sendiri). Bagaimana itu diperoleh? Yang pasti adalah dengan prestasi dan kualitas balapan itu sendiri.

Adalah Guy Edwards seorang agen pencari sponsor (sponsorship broker) bagi tim-tim Formula 1. Mentargetkan tidak lebih dari tiga sampai empat perusahaan setahun yang bakalan di approach untuk ditawarkan kepada tim Formula 1 tersebut. Tugasnya mencari sponsor termasuk mempelajari laporan keuangan setiap perusahaan, dan bagaimana sebuah perusahaan melihat pangsa pasar serta pengembangannya. Apakah budaya dan semangat perusahaan tersebut sesuai dengan unsur mendasar dari motor racing? Pendekatan yang sia-sia merupakan kerugian disisi keuangan serta waktu.

Berbeda dengan tim McLaren, mereka memiliki badan pemasaran sendiri yang bertugas mencari dana serta memperkerjakan 30 karyawan.  Sebagai informasi, bos McLaren Ron Dennis tidak menyebut sebagai sponsor tapi melainkan penanam saham (investor) yang mana dia percayai sebagai hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

Yang cukup menarik disini adalah tidak adanya peraturan khusus dalam hal sponsorship. Seperti yang dikatakan bos pemasaran tim Jordan Ian Philips,”Tidak ada suatu studi khusus dalam pencarian suatu perusahaan sponsor, kamu bisa menghabiskan ratusan ribu dollar dalam pembuatan leaflet, brosur, company profile dan lain-lain tapi perusahaan yang kamu targetkan tidak sedikitpun tertarik.”

Di lain pihak nampaknya perusahaan sponsorship yang paling memiliki hubungan terpanjang dengan Formula 1 adalah para perusahaan tembakau. Mereka telah memiliki hubungan kerja sama hampir lebih dari 30 tahun. Dimulai pada saat perjanjian kerja sama antara tim Lotus dengan perusahaan rokok John Player pada saat seri tahun 1968 berlangsung.

Filosofi kontroversi yang melatarbelakangi kerja sama antara perusahaan rokok dengan Formula 1 adalah dalam satu sisi secara finansial Formula 1 itu membutuhkan dana besar untuk melakukan R&D dan disisi lainnya dari pihak perusahaan rokok yang memiliki dana paling banyak menghadapi peraturan yang mempersulit mereka melakukan promosi apalagi melalui TV. Nah dengan kerja samanya bersama tim-tim Formula 1 maka perusahaan rokok tersebut memiliki kesempatan untuk mendapatkan promosi terlebih kesempatan terakhir mereka bisa tampil di TV.

Sebanyak enam tim terbaik dari 12 tim Formua 1 pada musim 1998 disponsori perusahaan rokok. Keenam tim tersebut menerima dana segar sebesar, menurut majalah Marketing pada tahun 1997; Ferrari (Marlboro, 50 juta dollar Amerika), Jordan (Benson & Hedges, 17 juta dolar Amerika), Benetton (Mild Seven, 20 juta dolar Amerika), McLaren (West, 32 juta dolar Amerika), Williams (Rothmans, 32 juta dolar Amerika), Prost (Gauloises, 17 juta dolar Amerika), yang disayangkan  telah bangkrut. Untuk sebuah tim baru yang milik BAT penuh adalah tim BAR memiliki dana sebesar 275 juta dolar Amerika untuk masa lima tahun.

Saat sekarang nampaknya strategi berpromosi melalui Formula 1 masih menjadi strategi utama bagi perusahaan rokok, setidaknya sampai tahun 2006. Sebagai contoh Marlboro memiliki hubungan yang sangat erat sekali dengan industri balap otomotif dan mempunyai reputasi sebagai pensponsor terbesar di Formula 1. Aleardo Buzzi, arsitektur yang mendalangi strategi promosi Philip Morris, produsen Marlboro, untuk masuk ke industri Formula 1. Beliau mengatakan,”Kami adalah no. 1 di dunia. Kami ingin mempromosikan citra petualangan & keberanian. Tapi itu semua kami lakukan bukan hanya semata-mata unsur komersialnya saja, lebih kepada kita memang mencintai industri olah raga sport otomotif. “

Marlboro mulai melakukan sponsor semenjak tahun 1971 bersama tim BRM. Dua tahun kemudian mereka pindah ke tim yang lebih baik yaitu McLaren selama hampir lebih dari 20 tahun sebelum akhirnya mereka pindah ke tim juara dunia Ferrari tahun 1997 sampai sekarang.

Mohon maaf apabila tulisan saya ini hampir didominasi oleh ilustrasi yang menggunakan perkembangan industri balapan Formula 1. Bukannya ingin berlebihan tapi berdasarkan ilustrasi tersebut diatas ternyata yang dibutuhkan kita adalah sebuah industri balapan yang harus dikelola benar-benar sangat profesional yaitu dari segi pendanaan, penyelenggaraan, peraturan, dll harus tersentuh sangat ditail sekali dimana apabila semua itu bisa terintegrasi dengan baik maka sangatlah mungkin decitan ban-ban mobil balap nasional kita akan semakin sering terdengar di negeri kita tercinta.

Apabila ditanya apa keuntungannya bagi negara ini untuk sebuah industri balapan nasional yang maju? Sangat jelas adalah nama harum negeri ini dan kepercayaan dunia nasional dan internasional terhadap sebuah bangsa besar Indonesia dimana itu semua tidak bisa kita beli melainkan harus kita bayar dengan prestasi yang setinggi-tingginya. Apabila ini bisa berhasil maka tidak menutup kemungkinan industri olah raga nasional lainnya akan terpacu untuk melakukan hal yang sama.

Comments
  1. Leboy says:

    Expert, bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s