Back to Square One

Posted: December 8, 2009 in Formula 1
Tags: , , , , , , , ,


Mungkin artikel ini saya tulis berdasarkan pemikiran saya yang agak nyeleneh dan berbau kontroversi. Terus terang dengan seringnya saya melihat dan menyaksikan apa yang terjadi di muka bumi ini saat sekarang mulai dari global warming, global crisis, dan global-global lainnya, tampaknya bumi beserta isi-isinya sudah mencapai suatu titik tertinggi sebuah lemparan (kemajuan zaman) dan secara alami lemparan tersebut pasti akan menukik kembali. Kalau tidak salah hukum tersebut saya pelajari sewaktu masih dibangku sekolah pada mata pelajaran fisika.

Nah, apa hubungannya hukum fisika tersebut dengan dunia olah raga yang kita bangga-bangga kan ini, yaitu Formula 1. Sebuah ultimate dan pinnacle even olah raga balapan roda empat yang sudah berumur lebih dari setengah abad sekarang sedang mengalami hal yang sama yaitu sedang menukik. Saya tidak perlu menjelaskan secara ditail kenapa Formula 1 sedang mengalamai masa sulit dengan dikagetkannya kita terhadap pengumuman keluarnya tim Honda akhir tahun lalu.

Seperti judul diatas, tampaknya kita sudah seharusnya untuk membuka kembali lembaran-lembaran dokumen yang sudah usang perihal masa-masa awal dimana Formula 1 terbentuk alias kelahirannya. Saya bukan ahli sejarah dan memiliki data yang akurat perihal cikal bakal kelahiran olah raga balap F1 tapi sedikit dari yang saya ingat akan saya coba paparkan kembali.

Cikal bakal balap Formula 1 berawal justru di era tahun 1920-an dan 1930-an dengan sebutannya European Grand Prix Motor Racing. Kata “Formula” itu sendiri berarti sebuah aturan main yang harus disepakati dan dijalankan oleh semua elemen baik tim, mesin, mobil dan lainnya. Nama Formula One tersebut adalah sebuah formula baru yang disepakati setelah Perang Dunia II pada tahun 1946.

Balapan F1 pertama diselenggarakan pada tanggal 13 Mei 1950 di Silverstone, Inggris dan pemenangnya saat itu adalah pembalap Giuseppe Farina kebangsaan Italia dengan menggunakan mobil Alfa Romeo. Era tahun 1950-an tersebut balap F1 didominasi oleh pabrikan otomotif Italia dan Jerman seperti Alfa Romeo, Ferrari, Maserati dan Mercedes-Benz.

Masa-masa itu balapan Formula 1 benar-benar hanya berkeliling di mayoritas negara-negara Eropa dan dihadiri oleh kalangan borjuis dari keluarga-keluarga raja yang notabene memiliki kekayaan yang berlimpah. Tontonan Formula 1 pada saat itu mungkin seperti pada saat zaman romawi yang memiliki pertunjukan gladiator di colosium dimana dari segi keamanan masih sangat minim sekali sehingga masih sering para penonton menyaksikan kecelakaan-kecelakaan yang membuat mereka berteriak puas.

Saat itu pula belum banyak keterlibatan pihak sponsor dari kalangan usaha melirik even tersebut untuk disponsori atau memang belum ada ide atau istilah sponsor. Masing-masing pabrikan bekerja berdasarkan dana internal sendiri dan menjadikan ajang balapan ini sebagai kesempatan untuk berpromosi didepan para kalangan borjuis tersebut sekaligus juga menjadi arena research and development dalam pengembangan teknologi pabrikan tersebut.

Dengan cara tersebut sangat jelas sekali pada awalnya pabrikan-pabrikan yang terjun kedunia Formula 1 memiliki tujuan yang pasti yaitu berkampanye memamerkan keunggulan teknologi masing-masing mobilnya di depan para kalangan terhormat alias kaum borjuis. Dan ujung-ujungnya pabrikan tersebut berpikir kalau mereka bisa unggul di balapan siapa tahu mereka akan tertarik untuk membeli mobil versi jalanannya.

Memang sangat tidak fair kalau kita membandingkan sesederhana itu antara sekarang dengan setengah abad yang lalu dimana dari segi populasinya aja belum sebanyak sekarang dan kepentingan bisnis belum sesengit sekarang. Tapi menurut saya ada paling tidak satu hal yang pasti yaitu Formula 1 dari awal sampai sekarang adalah even olah raga yang mahal.

Jadi walaupun dimasa krisis seperti ini saya yakin bahwa masih ada kesempatan untuk tetap eksis. Seperti dunia ini selalu ada sisi buruk dan sisi negatif. Nah walaupun krisis seperti sekarang, tetap masih ada kalangan borjuis yang memiliki hasrat dan rela berkorban untuk tetap bisa menyaksikan balapan Formula 1 walaupun harus ditebus dengan harga selangit.

Dengan kondisi masih adanya kesempatan dunia Formula 1 untuk tetap eksis dengan market yang juga masih ada, menurut saya ide untuk membuat balapan Formula 1 menjadi lebih murah justru sangat tidak setuju. Dengan ide untuk membuat balapan dengan satu jenis mesin, pemotongan bujet sana sini, dan lain-lainnya sehingga itu semua bisa membuat Formual 1 bermuara pada image sebuah perhelatan balapan mobil murahan.

Tidak perlu panik dalam menghadapi dan menyikapi situasi krisis sekarang ini, tapi lebih fokus pada kesempatan yang saya yakin masih banyak jalan keluarnya tanpa harus mengorbankan image Formula 1 itu sendiri sebagai ajang balapan prestise. Mungkin gampangnya sang pemiliki Formula 1, Bernie Ecclestone sudah waktunya untuk berpikir kembali untuk menyelamatkan sirkusnya dengan memotong atau membagi porsi kue-nya lebih banyak kepada tim-tim balap Formula 1 lebih besar dari 50%.

Dan saya setuju dengan yang dikatakan Direktur Motorsport BMW, Mario Theissen, “F1 punya segalanya untuk menangani situasi ini dan saya yakin akan masa depannya.” Dan kalau boleh saya tambahkan bahwa Formula 1 memiliki nyawanya sendiri untuk bisa hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s